Senin, 27 Mei 2013

Artikel Penyakit Unggas



Penyakit Unggas yang Disebabkan Karena Infeksi Bakteri
1.          Chronic Respiratory Disease (CRD)
Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernafasan menahun merupakan penyakit menular pada unggas dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup tinggi karena terjadi penurunan produksi telur dan kualitas karkas dan biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan menjadi tinggi.
v   Etiologi
CRD disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum dari family Mycoplastaceae. Beberapa strain Mycoplasma gallisepticum yang diketahui seperti strain R merupakan strain patogenik yang biasa digunakan untuk bakteri tantang. Strain F bersifat patogenik, tetapi lesi radang kantong hawa (air sacculitis) yang disebabkan oleh strain R lebih hebat dibandingkan F. Bakteri ini termasuk gram negatif, bentuk kokoid dan berukuran 0,25-0,5 um.
v   Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Inggris sebagai epizootic pneumoenteritis atau infectious sinusitis pada kalkun tahun 1938 dan pada tahun 1943 agen penyebab CRD pada ayam dan kalkun telah berhasil diisolasi. Dalam beberapa tahun CRD menyebar di beberapa Negara seperti Australia, Inggris, Jepang, India, Yugoslavia, Prancis dan Negara lain di kawasan Asia. Di Indonesia tersebar hamper di seluruh daerah dan bersifat endemik.

v    Jenis Unggas Terserang
 CRD utamanya menyerang ayam dan kalkun. Bakteri penyebab CRD juga pernah diisolasi dari burung liar, itik dan angsa.
v   Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan secara langsung, melalui udara dan debu, peralatan kandang tercemar. Penularan vertical melalui telur dapat terjadi.
v   Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan mortalitas bervariasi. Morbiditas pada ayam tinggi dan dapat menyerang semua ayam dalam satu flok, tetapi mortalitas bervariasi. Serangan penyakit lebih hebat pada kelompok muda dan waktu  musim dingin. CRD umumnya berjalan kronis dan sering diikuti oleh infeksi lain seperti ND, IB dan E. coli.
Mortalitas pada ayam dewasa rendah, tetapi dapat menyebabkan penurunan produksi. Ayam broiler mortalitas rendah, tetapi jika ada komplikasi penyakit lain mortalitas dapat mencapai 50 %.
v  Gejala Klinis
Pada ayam gejala klinis yang menonjol adalah gejala pernafasan ditandai dengan leleran hidung, batuk, konsumsi pakan dan berat badan menurun. Ayam petelur terjadi penurunan produksi telur sampai pada tingkat terendah. Gejala lebih hebat pada ayam broiler terjadi pada umur 4 dan 8 minggu.
Pada kalkun terjadi pembengkakan pada sinus paranasal, leleran mata dan kelopak mata tertutup rapat akibat pembengkakan sinus kepala.

v    Diagnosa
Ayam yang terserang oleh strain MG variant tidak mudah didiagnosa berdasarkan gejala klinis, serologi atau kultur dan sering tidak dikenal dalam periode yang lama. Morfologi kuman dapat diperiksa dengan pemeriksaan mikroskopis. Kuman dapat dideteksi dengan uji AGP, imunoperoxidase, FAT dan PCR. Antibodi dapat dideteksi dengan uji HI, serum plat agglutination (SPA) dan ELISA.
v   Diagnosa Banding
CRD sering dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, Swollen Head Syndrome (SHS), Infectious Bronchitis (IB) atau Infectious Coryza.
v   Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dipisah dan telur dari flok tertular di rendam dengan larutan antibiotik. Telur dihangatkan pada suhu 37,8 °C dan dioleskan larutan antibiotic (tilosin) atau eritromisin (40-1000 rpm) selama 15-20 menit.
Pengobatan dengan antibiotik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin, eritromisin, spiramisin, tilosin, linkomisin dan spektinomisin.
Tindakan pencegahan dengan vaksinasi, menggunakan vaksin CRD inaktif menggunakan bakterin dalam minyak emulsi.

2.          Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan penyakit kronis yang sangat menular pada unggas dan dapat menyerang berbagai jenis unggas termasuk burung liar.


v   Etiologi
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium avium (AT), termasuk bakteri gram positif, berbentuk batang atau bengkok dengan ukuran panjang 1-3 um, tidak berspora dan non motil. Terdiri dari serotype 1, 2 dan 3 yang virulen pada ayam, sedangkan serotype 4-20 (M. intracellulare) tidak virulen pada ayam tetapi virulen pada manusia.

v   Distribusi Geografis
Tuberkulosis ayam tersebar luas di beberapa Negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Uruguay, Venezuela dan Argentina, Inggris, Jerman, Afrika Selatan, Kenya dan Rhodesia.
v   Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas dapat tertular M. avium, tetapi yang paling peka adalah unggas peliharaan seperti ayam, itik, angsa, kalkun, merak dan merpati. Ungas liar jarang terserang. Burung liar seperti kakatua, nuri, gelatik, gagak dan jalak pernah dilaporkan.
Berbagai jenis mamalia juga dilaporkan seperti babi, domba, kelinci, musang, hamster, rusa, sapi, sedangkan manusia, kera, kuda, marmot, anjing dan kucing termasuk tahan terhadap infeksi penyakit ini.
v  Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui tinja tercemar bakteri. Bakteri dapat berasal dari lesi tuberkulosus usus atau hati dan mukosa kantung empedu. Penularan juga dapat terjadi melalui pernafasan. Bakteri yang tahan hidup dalam tanah atau alas kandang dalam jangka waktu lama merupakan sumber penularan yang penting. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui telur.


v   Gejala Klinis
Ayam terserang ditandai dengan depresi, nafsu makan lama-kelamaan turun, ayam kurus (atrofi) dengan tulang dada menonjol. Bulu-bulu tampak kusam, jengger terlihat pucat dan lebih tipis dari normalnya kadang- kadang terlihat kebiruan. Salah satu kaki tampak lemah dan posisi tubuh seperti tertunduk. Sayap terlihat seperti menggantung karena bakteri menyerang persendian dan mengakibatkan kelumpuhan. Terjadi diare dan ayam dapat mati setelah sakit beberapa lama, jika terjadi kerusakan pada hati dan limpa maka unggas tersebut
dapat mengalami kematian yang mendadak.

v   Diagnosa

Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis dan isolasi bakteri. Pemeriksaan dengan mikroskop membantu diagnose. Isolasi bakteri dilakukan pada media khusus yang selanjutnya diidentifikasi dengan uji serologis untuk memastikan bakteri penyebab penyakit.

v   Diagnosa Banding

Beberapa penyakit yang mempunyai gejala klinis atau perubahan patologis sangat mirip dengan tuberculosis adalah fowl cholera dan fowl typhoid.

v   Pencegahan dan Pemberantasan

Ayam sakit dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur yang dalam. Kandang dan peralatan tercemar didesinfeksi dan pengosongan kandang dalam jangka waktu yang lama.
Pengobatan tidak efisien karena memerlukan waktu pengobatan selama 18 bulan. Beberapa jenis obat yang pernah digunakan seperti isoniazid (30 mg/kg), ethambutol (30 mg/kg) dan rrifampicin (45 mg/kg).

3.          Penyakit Pullorum
Nama lain: Salmonellosis. Merupakan penyakit menular pada ayam dan bersifat zoonosis.


v   Etiologi

Penyakit Pullorum disebabkan oleh Salmonella pullorum dari family Enterobacteriaceae. Termasuk bakteri gram negative, anaerob fakultatif, non motil, tidak kromogenik dan tidak berspora. Bentuk batang silinder panjang dengan ujung sedikit bulat dan berukuran 0,3-0,5 x 1-2,5 um.

v  Distribusi Geografis

Penyakit ini pertama kali dilaporkan sebagai penyakit septicemia yang mematikan pada anak ayam oleh Rettger pada tahun 1899. Kemudian disebut penyakit diare putih atau bacillary white diarrhea dan kemudian disepakati sebagai penyakit Pullorum. Penyakit ini tersebar luas di dunia.

v   Jenis Unggas Terserang
Unggas yang paling peka terhadap penyakit ini adalah ayam, disamping jenis unggas lainnya seperti kalkun, itik, ayam mutiara, kuau, puyuh, jalak, nuri dan jenis burung liar dapat tertular. Kelompok umur yang paling banyak terserang dan kematian paling tinggi adalah umur 2-3 minggu. Ketahanan terhadap penyakit mulai meningkat dimulai pada umur 5-10 hari dengan meningkatnya limfosit darah dan suhu tubuh. Mamalia tertular secara alami atau injeksi percobaan seperti simpanse, kelinci, marmut, babi, kucing, anjing, serigala, dan pedet, serta tikus liar.
v  Cara Penularan
Penularan utama melalui telur. Infeksi ovum terjadi saat ovulasi dan bakteri masuk melalui kulit telur. Penularan penyakit selama periode menetas dari ayam tertular kepada ayam sehat menyebabkan penyebaran penyakit yang hebat dan hanya dapat dikendalikan melalui fungsi mesin tetas. Penularan juga dapat ditularkan melalui ayam-ayam kanibal, telur yang pecah dan kemudian dimakan atau melalui luka.
v   Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan mortalitas bervariasi, tergantung umur, strain ayam, nutrisi, menejemen flok dan sifat penularan. Mortalitas bervariasi dan pada kasus wabah dapat mencapai 100 %. Puncak kematian terjadi pada minggu kedua atau ketiga dari umurnya.

v   Gejala Klinis
Anak ayam yang terserang salmonellosis ditandai dengan kelemahan, nafsu makan menurun, ngantuk, diare putih kapur dan bulu-bulu di daerah kloaka dan perut menjadi kotor, sesak nafas dan megap-megap. Sayap terlihat menggantung dan kematian mendadak. Ayam yang sembuh pertumbuhannya kerdil dan bulu sangat kotor. Terjadi pembengkakan sendi kaki tibiotarsal dan humeroradial dan persendian ulnaris dan produksi serta  daya tetas menurun
.
v   Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri dan uji serologis.
v   Diagnosa Banding
Gejala dan lesi patologis sangat mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh Salmonella lainnya. Aspergillus dan jamur lainnya dapat menghasilkan lesi yang sama pada paru-paru atau lesi pada persendian sangat mirip dengan infeksi Mycoplasma synoviae dan agen infeksius lainnya.
Infeksi local pada pericardium dan ovarium sama dengan lesi oleh bakteri lain seperti coliform, Staphylococcus, Mikrococci dan Salmonella.

v  Pencegahan dan Pemberantasan

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah ayam yang sakit dimusnahkan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian preparat sulfa seperti sulfadiazine dan sulfamerasin.

4.          Infectious Coryza
Nama lain: Snot.
v   Etiologi
Penyebab penyakit adalah bakteri Haemophilus paragallinarum. Termasuk bakteri gram negative dan non motil, bentuk batang pendek dan berukuran 1-3 x 0,4-0,8 um. Bakteri yang ganas mempunyai kapsul dan mengalami degenerasi dalam waktu 48-60 jam, dalam bentuk fragmen dan bentuk yang tidak teratur. Serotipe yang diketahui yaitu serovar A, B dan C. strain Modesto (M) termasuk serovar C. ketiga strain tersebut ada yang menguraikan sebagai serovar I, II, dan III, tetapi menurut penelitian trakhir bahwa serovar II dan III merupakan varian dari serovar I.
v   Patogenesa
Ada 3 jenis antigen dalam bakteri ini yaitu lipopolisakarida yang diisolasi dari cairan supernatant biakan dari strain serovar A dan C. antigen polisakarida yang diisolasi dari strain serovar A dan C yang menyebabkan hidropericardium pada ayam. Antigenketiga adalah asam hialuronik mengandung kapsul yang menyebabkan gejala coryza.

v  Distribusi Geografis

Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Beach pada tahun 1920 dan berhasil diisolasi pada tahun 1931 yang diberi nama Bacillus hemoglobinophilus coryzae gallinarum. Penyakit ini bersifat endemic di dunia. Di Indonesia ditemukan tersebar luas dan endemic.

v   Jenis Unggas Terserang
Ayam menjadi hospes utama penyakit ini. Unggas lainnya juga terserang seperti kuau, ayam mutiara, dan puyuh. Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relative tahan.
Semua umur ayam dapat terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur 3-7 hari dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibody maternal.

v   Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Unggas sehat dan yang terinfeksi kronis serta burung liar dapat bertindak sebagai pembawa penyakit. Penyakit umumnya terjadi pada musim hujan dan musim dingin.

v   Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas tinggi sedangkan mortalitas rendah. Jika ada komplikasi penyakit lain seperti cacar ayam, CRD, IB, kolera unggas dan ILT mortalitas menjadi tinggi.


v   Gejala Klinis
Masa inkubasi tidak diketahui dengan pasti. Secara percobaan berlangsung 24-48 jam setelah infeksi atau intra sinus dengan biakan bakteri atau eksudat. Lama berlangsungnya penyakit tergantung dari inokulum dan keganasan bakteri.
Ayam terserang ditandai dengan gejala pernafasan yaitu keluarnya cairan bersifat encer sampai berlendir, bersin-bersin, sinus kepala bengkak, selaput lender mata meradang atau mata membengkak. Jengger bengkak, diare, nafsu makan dan minum menurun.

v   Diagnosa

Penyakit didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi penyakit. Berbagai uji serologis dapat digunakan seperti aglutinasi tabung atau plat, AGP dan HI. AGP dapat mendeteksi antibodi 2 minggu pascainfeksi atau pascavaksinasi kurang lebih 11 minggu.

v   Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, CAA, IB, CRD, kolera unggas kronis, cacar unggas, defisiensi vitamin A yang mempunyai gejala klinis yang mirip dengan coryza.

v   Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dapat diobati dengan preparat sulfonamide dan antibiotika seperti eritromisin dan oksitetrasiklin. Obat dalam bentuk campuran efektif dalam pengobatan penyakit seperti Sulfachloropyrazine-sulfadimidine, klortetrasiklin-sulfodimektosin, sulfakloropiridazin-trimetroprim, miporamisin dan esafloxacin. Tindakan pencegahan yang paling efektif yaitu melakukan vaksinasi. Ayam divaksinasi pada umur 10 dan 20 minggu melalui suntikan intramuskuler. Belakangan ini telah dikembangkan vaksin snot yang dikembangkan dengan vaksin IB dan ND inaktif.

.

undip.ac.id  fp.undip.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar