Penyakit Unggas yang Disebabkan
Karena Infeksi Bakteri
1. Chronic Respiratory Disease (CRD)
Chronic
Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernafasan menahun merupakan penyakit
menular pada unggas dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup tinggi karena
terjadi penurunan produksi telur dan kualitas karkas dan biaya yang dikeluarkan
untuk pengobatan menjadi tinggi.
v Etiologi
CRD
disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum
dari family Mycoplastaceae. Beberapa
strain Mycoplasma gallisepticum yang
diketahui seperti strain R merupakan strain patogenik yang biasa digunakan
untuk bakteri tantang. Strain F bersifat patogenik, tetapi lesi radang kantong
hawa (air sacculitis) yang disebabkan oleh strain R lebih hebat dibandingkan F.
Bakteri ini termasuk gram negatif, bentuk kokoid dan berukuran 0,25-0,5 um.
v Distribusi Geografis
Penyakit
ini pertama kali dilaporkan di Inggris sebagai epizootic pneumoenteritis atau
infectious sinusitis pada kalkun tahun 1938 dan pada tahun 1943 agen penyebab
CRD pada ayam dan kalkun telah berhasil diisolasi. Dalam beberapa tahun CRD
menyebar di beberapa Negara seperti Australia, Inggris, Jepang, India,
Yugoslavia, Prancis dan Negara lain di kawasan Asia. Di Indonesia tersebar
hamper di seluruh daerah dan bersifat endemik.
v Jenis Unggas Terserang
CRD utamanya menyerang ayam dan kalkun.
Bakteri penyebab CRD juga pernah diisolasi dari burung liar, itik dan angsa.
v Cara Penularan
Penyakit
ini ditularkan secara langsung, melalui udara dan debu, peralatan kandang
tercemar. Penularan vertical melalui telur dapat terjadi.
v Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas
dan mortalitas bervariasi. Morbiditas pada ayam tinggi dan dapat menyerang
semua ayam dalam satu flok, tetapi mortalitas bervariasi. Serangan penyakit
lebih hebat pada kelompok muda dan waktu
musim dingin. CRD umumnya berjalan kronis dan sering diikuti oleh
infeksi lain seperti ND, IB dan E. coli.
Mortalitas
pada ayam dewasa rendah, tetapi dapat menyebabkan penurunan produksi. Ayam
broiler mortalitas rendah, tetapi jika ada komplikasi penyakit lain mortalitas
dapat mencapai 50 %.
v Gejala Klinis
Pada
ayam gejala klinis yang menonjol adalah gejala pernafasan ditandai dengan
leleran hidung, batuk, konsumsi pakan dan berat badan menurun. Ayam petelur
terjadi penurunan produksi telur sampai pada tingkat terendah. Gejala lebih
hebat pada ayam broiler terjadi pada umur 4 dan 8 minggu.
Pada
kalkun terjadi pembengkakan pada sinus paranasal, leleran mata dan kelopak mata
tertutup rapat akibat pembengkakan sinus kepala.
v Diagnosa
Ayam
yang terserang oleh strain MG variant tidak mudah didiagnosa berdasarkan gejala
klinis, serologi atau kultur dan sering tidak dikenal dalam periode yang lama.
Morfologi kuman dapat diperiksa dengan pemeriksaan mikroskopis. Kuman dapat
dideteksi dengan uji AGP, imunoperoxidase, FAT dan PCR. Antibodi dapat
dideteksi dengan uji HI, serum plat agglutination (SPA) dan ELISA.
v Diagnosa Banding
CRD
sering dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, Swollen Head Syndrome
(SHS), Infectious Bronchitis (IB) atau Infectious Coryza.
v Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dipisah
dan telur dari flok tertular di rendam dengan larutan antibiotik. Telur
dihangatkan pada suhu 37,8 °C dan dioleskan larutan antibiotic (tilosin) atau
eritromisin (40-1000 rpm) selama 15-20 menit.
Pengobatan dengan
antibiotik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin,
eritromisin, spiramisin, tilosin, linkomisin dan spektinomisin.
Tindakan pencegahan
dengan vaksinasi, menggunakan vaksin CRD inaktif menggunakan bakterin dalam minyak
emulsi.
2.
Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan
penyakit kronis yang sangat menular pada unggas dan dapat menyerang berbagai
jenis unggas termasuk burung liar.
v Etiologi
Tuberkulosis disebabkan
oleh Mycobacterium avium (AT),
termasuk bakteri gram positif, berbentuk batang atau bengkok dengan ukuran
panjang 1-3 um, tidak berspora dan non motil. Terdiri dari serotype 1, 2 dan 3
yang virulen pada ayam, sedangkan serotype 4-20 (M. intracellulare) tidak
virulen pada ayam tetapi virulen pada manusia.
v Distribusi Geografis
Tuberkulosis ayam
tersebar luas di beberapa Negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil,
Uruguay, Venezuela dan Argentina, Inggris, Jerman, Afrika Selatan, Kenya dan
Rhodesia.
v Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas
dapat tertular M. avium, tetapi yang paling peka adalah unggas peliharaan
seperti ayam, itik, angsa, kalkun, merak dan merpati. Ungas liar jarang
terserang. Burung liar seperti kakatua, nuri, gelatik, gagak dan jalak pernah
dilaporkan.
Berbagai jenis mamalia juga dilaporkan seperti babi, domba, kelinci, musang, hamster, rusa, sapi, sedangkan manusia, kera, kuda, marmot, anjing dan kucing termasuk tahan terhadap infeksi penyakit ini.
Berbagai jenis mamalia juga dilaporkan seperti babi, domba, kelinci, musang, hamster, rusa, sapi, sedangkan manusia, kera, kuda, marmot, anjing dan kucing termasuk tahan terhadap infeksi penyakit ini.
v Cara
Penularan
Penyakit ini ditularkan
melalui tinja tercemar bakteri. Bakteri dapat berasal dari lesi tuberkulosus
usus atau hati dan mukosa kantung empedu. Penularan juga dapat terjadi melalui
pernafasan. Bakteri yang tahan hidup dalam tanah atau alas kandang dalam jangka
waktu lama merupakan sumber penularan yang penting. Penyakit ini juga dapat
ditularkan melalui telur.
v Gejala Klinis
Ayam terserang ditandai
dengan depresi, nafsu makan lama-kelamaan turun, ayam kurus (atrofi) dengan
tulang dada menonjol. Bulu-bulu tampak kusam, jengger terlihat pucat dan lebih
tipis dari normalnya kadang- kadang terlihat kebiruan. Salah satu kaki tampak
lemah dan posisi tubuh seperti tertunduk. Sayap terlihat seperti menggantung
karena bakteri menyerang persendian dan mengakibatkan kelumpuhan. Terjadi diare
dan ayam dapat mati setelah sakit beberapa lama, jika terjadi kerusakan pada
hati dan limpa maka unggas tersebut
dapat mengalami kematian yang mendadak.
v Diagnosa
Penyakit dapat
didiagnosa berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis dan isolasi
bakteri. Pemeriksaan dengan mikroskop membantu diagnose. Isolasi bakteri
dilakukan pada media khusus yang selanjutnya diidentifikasi dengan uji
serologis untuk memastikan bakteri penyebab penyakit.
v Diagnosa Banding
Beberapa penyakit yang
mempunyai gejala klinis atau perubahan patologis sangat mirip dengan
tuberculosis adalah fowl cholera dan fowl typhoid.
v Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dimusnahkan
dengan dibakar atau dikubur yang dalam. Kandang dan peralatan tercemar
didesinfeksi dan pengosongan kandang dalam jangka waktu yang lama.
Pengobatan tidak efisien karena memerlukan waktu pengobatan selama 18 bulan. Beberapa jenis obat yang pernah digunakan seperti isoniazid (30 mg/kg), ethambutol (30 mg/kg) dan rrifampicin (45 mg/kg).
Pengobatan tidak efisien karena memerlukan waktu pengobatan selama 18 bulan. Beberapa jenis obat yang pernah digunakan seperti isoniazid (30 mg/kg), ethambutol (30 mg/kg) dan rrifampicin (45 mg/kg).
3.
Penyakit Pullorum
Nama lain: Salmonellosis. Merupakan
penyakit menular pada ayam dan bersifat zoonosis.
v Etiologi
Penyakit Pullorum
disebabkan oleh Salmonella pullorum dari family Enterobacteriaceae.
Termasuk bakteri gram negative, anaerob fakultatif, non motil, tidak kromogenik
dan tidak berspora. Bentuk batang silinder panjang dengan ujung sedikit bulat
dan berukuran 0,3-0,5 x 1-2,5 um.
v Distribusi
Geografis
Penyakit ini pertama
kali dilaporkan sebagai penyakit septicemia yang mematikan pada anak ayam oleh
Rettger pada tahun 1899. Kemudian disebut penyakit diare putih atau bacillary
white diarrhea dan kemudian disepakati sebagai penyakit Pullorum. Penyakit ini
tersebar luas di dunia.
v Jenis Unggas Terserang
Unggas yang paling peka
terhadap penyakit ini adalah ayam, disamping jenis unggas lainnya seperti
kalkun, itik, ayam mutiara, kuau, puyuh, jalak, nuri dan jenis burung liar
dapat tertular. Kelompok umur yang paling banyak terserang dan kematian paling
tinggi adalah umur 2-3 minggu. Ketahanan terhadap penyakit mulai meningkat
dimulai pada umur 5-10 hari dengan meningkatnya limfosit darah dan suhu tubuh.
Mamalia tertular secara alami atau injeksi percobaan seperti simpanse, kelinci,
marmut, babi, kucing, anjing, serigala, dan pedet, serta tikus liar.
v Cara
Penularan
Penularan utama melalui
telur. Infeksi ovum terjadi saat ovulasi dan bakteri masuk melalui kulit telur.
Penularan penyakit selama periode menetas dari ayam tertular kepada ayam sehat
menyebabkan penyebaran penyakit yang hebat dan hanya dapat dikendalikan melalui
fungsi mesin tetas. Penularan juga dapat ditularkan melalui ayam-ayam kanibal,
telur yang pecah dan kemudian dimakan atau melalui luka.
v Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan
mortalitas bervariasi, tergantung umur, strain ayam, nutrisi, menejemen flok
dan sifat penularan. Mortalitas bervariasi dan pada kasus wabah dapat mencapai
100 %. Puncak kematian terjadi pada minggu kedua atau ketiga dari umurnya.
v Gejala Klinis
Anak ayam yang
terserang salmonellosis ditandai dengan kelemahan, nafsu makan menurun,
ngantuk, diare putih kapur dan bulu-bulu di daerah kloaka dan perut menjadi
kotor, sesak nafas dan megap-megap. Sayap terlihat menggantung dan kematian
mendadak. Ayam yang sembuh pertumbuhannya kerdil dan bulu sangat kotor. Terjadi
pembengkakan sendi kaki tibiotarsal dan humeroradial dan persendian ulnaris dan
produksi serta daya tetas menurun
.
v Diagnosa
Diagnosa dapat
dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri dan uji serologis.
v Diagnosa Banding
Gejala dan lesi
patologis sangat mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh Salmonella lainnya.
Aspergillus dan jamur lainnya dapat menghasilkan lesi yang sama pada paru-paru
atau lesi pada persendian sangat mirip dengan infeksi Mycoplasma synoviae dan
agen infeksius lainnya.
Infeksi local pada
pericardium dan ovarium sama dengan lesi oleh bakteri lain seperti coliform,
Staphylococcus, Mikrococci dan Salmonella.
v Pencegahan
dan Pemberantasan
Pencegahan yang dapat
dilakukan adalah ayam yang sakit dimusnahkan. Pengobatan dilakukan dengan
pemberian preparat sulfa seperti sulfadiazine dan sulfamerasin.
4. Infectious Coryza
Nama lain: Snot.
v Etiologi
Penyebab penyakit
adalah bakteri Haemophilus paragallinarum. Termasuk bakteri gram
negative dan non motil, bentuk batang pendek dan berukuran 1-3 x 0,4-0,8 um.
Bakteri yang ganas mempunyai kapsul dan mengalami degenerasi dalam waktu 48-60
jam, dalam bentuk fragmen dan bentuk yang tidak teratur. Serotipe yang
diketahui yaitu serovar A, B dan C. strain Modesto (M) termasuk serovar C.
ketiga strain tersebut ada yang menguraikan sebagai serovar I, II, dan III,
tetapi menurut penelitian trakhir bahwa serovar II dan III merupakan varian
dari serovar I.
v Patogenesa
Ada 3 jenis antigen
dalam bakteri ini yaitu lipopolisakarida yang diisolasi dari cairan supernatant
biakan dari strain serovar A dan C. antigen polisakarida yang diisolasi dari
strain serovar A dan C yang menyebabkan hidropericardium pada ayam.
Antigenketiga adalah asam hialuronik mengandung kapsul yang menyebabkan gejala
coryza.
v Distribusi
Geografis
Penyakit ini pertama
kali dilaporkan oleh Beach pada tahun 1920 dan berhasil diisolasi pada tahun
1931 yang diberi nama Bacillus hemoglobinophilus coryzae gallinarum. Penyakit
ini bersifat endemic di dunia. Di Indonesia ditemukan tersebar luas dan
endemic.
v Jenis Unggas Terserang
Ayam menjadi hospes
utama penyakit ini. Unggas lainnya juga terserang seperti kuau, ayam mutiara,
dan puyuh. Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relative
tahan.
Semua umur ayam dapat
terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur 3-7 hari
dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibody maternal.
v Cara Penularan
Penyakit ditularkan
melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Unggas sehat dan
yang terinfeksi kronis serta burung liar dapat bertindak sebagai pembawa
penyakit. Penyakit umumnya terjadi pada musim hujan dan musim dingin.
v Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas
tinggi sedangkan mortalitas rendah. Jika ada komplikasi penyakit lain seperti
cacar ayam, CRD, IB, kolera unggas dan ILT mortalitas menjadi tinggi.
v Gejala Klinis
Masa inkubasi tidak
diketahui dengan pasti. Secara percobaan berlangsung 24-48 jam setelah infeksi
atau intra sinus dengan biakan bakteri atau eksudat. Lama berlangsungnya
penyakit tergantung dari inokulum dan keganasan bakteri.
Ayam terserang ditandai
dengan gejala pernafasan yaitu keluarnya cairan bersifat encer sampai berlendir,
bersin-bersin, sinus kepala bengkak, selaput lender mata meradang atau mata
membengkak. Jengger bengkak, diare, nafsu makan dan minum menurun.
v Diagnosa
Penyakit didiagnosa
berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi
penyakit. Berbagai uji serologis dapat digunakan seperti aglutinasi tabung atau
plat, AGP dan HI. AGP dapat mendeteksi antibodi 2 minggu pascainfeksi atau
pascavaksinasi kurang lebih 11 minggu.
v Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat
dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, CAA, IB, CRD, kolera unggas
kronis, cacar unggas, defisiensi vitamin A yang mempunyai gejala klinis yang
mirip dengan coryza.
v Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dapat
diobati dengan preparat sulfonamide dan antibiotika seperti eritromisin dan
oksitetrasiklin. Obat dalam bentuk campuran efektif dalam pengobatan penyakit
seperti Sulfachloropyrazine-sulfadimidine, klortetrasiklin-sulfodimektosin,
sulfakloropiridazin-trimetroprim, miporamisin dan esafloxacin. Tindakan pencegahan
yang paling efektif yaitu melakukan vaksinasi. Ayam divaksinasi pada umur 10
dan 20 minggu melalui suntikan intramuskuler. Belakangan ini telah dikembangkan
vaksin snot yang dikembangkan dengan vaksin IB dan ND inaktif.
.